Langsung ke konten utama

Puisi di Buku Catatan Lama 1

Puisi di buku catatan lamamu, katanya itu tandanya kamu pernah jatuh cinta sekaligus patah hati, ya sebagai pelepas rasa yang kau pendam. Cinta yang tak sampai, atau rindu yang tak tau pemiliknya atau bahkan sambatan ketika kau kesal. Tak ada yang salah dari hanya sekedar menulis. Tapi mungkin ini lebih mirip coretan di buku harian anak sekolahan.



- Menari -


Aku duduk di halaman belakang 

Menatap langit mendung 

Deru angin seakan berbisik, bertanya 

Hei, apa kau menyerah? 

 

Hujan kata kata turun begitu deras 

Kilauan mata itu kembali teringat jelas 

Kenapa aku menangis? 

 

Bersamaan dengan turunnya sang hujan 

Air mata itu mengalir 

Aku hanya, hanya menatap bayanganku 

Yang dengan cepat menghilang oleh tetesan hujan 

 

Hei! Bukannya ini yang kau mau? 

Ketenangan! Sendiri! Tidak ada yang mengganggu! 

lalu kenapa kau menari dengan kesedihan? 

Aku menarik nafas, menghela panjang 

Kau tahu, hidup memang penuh kontradiksi 

***




- Aku hanya - 


Agar tak terjatuh, aku terus melihat kebawah 

Hidup, kehidupan penuh dengan kompromi 

Hati atau takdir, lagu cinta ataupun kehidupan 

Satupun tak ada yang kupercaya 

Jika tidak menghasilkan sesuatu tidak ada artinya 


Dengan sengaja kuhapus mimpi yang kutulis, Berbaring dan menunggu batas waktu tiba 


Aku hanya,

hanya memejamkan mataku,

ku lukiskan kehadiranmu 

Satu hal lagi dimataku 

Semua ini tentang mu 


*** 

 

 

 

 - Bunga sepi -

 

Sejak malam tadi aku bersiap 

Semuanya tampak berantakan, 

Aku tidak tahu apa yang harus dlakukan 

Perlahan air mata mengalir, tanpa sengaja ku ucapkan 

“Sampai Jumpa” 

 

Lalu aku berjalan dibawah langit malam, 

Dengan udara dingin menusuk 

Dan sekali lagi kusadari 

Kamu sudah tidak lagi di sampingku

 

Tatapan hangat itu 

Lebih dari apapun, aku sangat merindukannya 

  

Sedikit lagi 

Jangan lupakan 

Ku harap kau tidak melupakannya 

Bunga yang kesepian 

*** 


 

- Untitled -


Pagi ini aku bangun 

Lebih siang dari pada biasanya 

Tanpa sadar aku bertumbuh dewasa 

Memulai hari dengan kenangan 

 

Lalu berjalan melintasi keramaian 

Aku masih belum menyadarinya 

Matahari pagi itu begitu hangat 

Kemudian orang-orang menyapa 

 

Aku kembali berjalan 

Kemudian aku menyadari, kamu ada disana 

Hanya diam, begitu malu 

Bagiku itu sangat meneduhkan 

 

Aku tidak dapat mengejarmu 

*** 

 



 - Gantung -

 

Deras tetesan hujan 

Aku hanya menatap kosong layar laptop 

Sepintas aku teringat 

Masa ketika melihat langit biru penuh harap 


Menghapus air mataku yang jatuh

"Kenapa hatiku terasa begitu sakit?” 

Mata ke mata, akupun bertanya

“apa yang ingin kau mulai?” 


*** 

Komentar